Potensi Karya Seni Konvensional Dalam Pasar Digital

Artwork: The Persistence of Memory

Penulis.: Fantasia Imanda

Seni dengan teknik konvensional, apakah masih bisa menghadapi besarnya arus perkembangan dunia digital? Tentu bukan sekedar evaluasi yang sederhana. Buka mata. Lihatlah skemanya. Lalu kita ambil mana muatan yang lebih berpotensi untuk menunjukkan jati diri baru seni konvensional dalam ranah digital.

Sederhananya, pasar digital sangat bergantung pada algoritma. Hal inilah yang paling sering menuai cemburuisme. Pasar digital kini dikuasai oleh kreator-kreator digital yang aktif dan praktis. Dan tidak sedikit orang yang mulai beradaptasi dengan seni digital.

Sudah tidak mengherankan lagi kalau seni teknik konvensional mulai tergerus. Bahkan sangat kurang mendapatkan perhatian khusus. Namun bagi sebagian orang pecinta karya seni murni, teknik konvensional masih dianggap sebagai hal yang penting. Soal selera, karya seni konvensional tetaplah yang terbaik. Berbeda dari Digital Art yang sifatnya satu arus dan mainstream.

Memahami Pasar Seni Digital Secara Konseptual

Pasar seni digital adalah yang terbesar untuk saat ini. Karya yang dijual hampir sebagian besar menggunakan teknik digital.

Ada beberapa kelemahan yang bisa dijangkau dari pasar seni digital, salah satunya algoritma. Algoritma memang bisa membuat suatu karya seni digital bisa naik peringkat, namun sulit untuk menemukan kriteria karya seni yang sesuai.

Pasar seni digital adalah marketplace bagi anak-anak muda yang sifatnya praktis namun tetap menguntungkan. Sedangkan marketplace lama melihat karya dari setiap segmen dengan cara yang lebih nampak.

Lalu, mana yang lebih menguntungkan?

Dua hal yang berlawanan tidak bisa langsung disimpulkan mana yang terbaik, namun potensi yang sangat menguntungkan berada di dalam pasar seni digital.

Hal ini yang menjadi evaluasi tersendiri, karya seni konvensional harus menemukan beberapa strategi yang tepat untuk dapat dipasarkan di Marketplace digital.

#1 Membangun brand awareness yang kuat untuk seni konvensional

Nasib seni konvensional bisa jadi berubah jika media-media online besar mampu menampung tempat untuk seniman konvensional memperkenalkan karya-karyanya. Media online yang sudah memiliki nama besar bisa menjadi jembatan antara pemilik karya dengan kolektor.

Untuk saat ini, kesadaran akan penempatan karya seni konvensional di dunia digital masih terbilang sangat jarang bahkan kurang mendapat perhatian khusus.

#2 Website khusus yang friendly-use dengan metode SEO yang tepat

Memasarkan karya seni konvensional tidak disarankan di dalam situs aggregator digital art, karena akan memakan waktu yang sangat lama. Terlebih jika harus membangun reputasi terlebih dahulu. Situs aggregator sangat membantu untuk seniman yang sudah memiliki nama dan identitas yang populer di masyarakat.

Satu-satunya cara yang bisa ditempuh adalah membuat website khusus atau situs pribadi yang friendly-use. Kenapa harus membangun website pribadi? Website bisa membuat tingkat reach lebih tinggi untuk menemukan calon customer yang potensial. Pengenalan produk lebih spesifik. Lebih jelas. Tidak tanggung-tanggung. Selain itu, bisa membangun reputasi sekaligus dari membangun website pribadi.

#3 Menggunakan paid ads sebagai resolusi ketiga

Tidak ada salahnya untuk bereksperimen menggunakan paid ads dalam memasarkan karya seni konvensional, namun harus sesuai dengan target user dengan kebutuhan yang selaras. Tidak banyak yang mendambakan karya seni konvensional, namun paid ads bisa menjadi alternatif online marketing untuk menemukan calon customer. Bahkan paid ads bisa berpotensi berkali lipat dibandingkan hanya membangun website pribadi.

#4 Terakhir adalah media sosial. Bukan sebagai branding, namun cukup sebagai tujuan eksistensi dari owner

Jangan lewatkan media sosial. Meskipun media sosial tidak banyak memberikan peran untuk memasarkan seni konvensional, tapi kesempatan ini layak untuk dicoba. Seorang artist butuh eksistensinya di media sosial. Tidak melulu soal karya, tapi bisa berupa ‘behind the project’. Aktivitas-aktivitas tersebut yang akhirnya menimbulkan rekomendasi dari orang yang tertarik.

--

--

--

Love podcasts or audiobooks? Learn on the go with our new app.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store
Fantasia Imanda

Fantasia Imanda

More from Medium

SH1T, are you in an advert? [How I came to star in an insurance advertising campaign]

Stick to Your Niche: Market to the People Who Care

Talking Shop With TILT’s Marketing Director, Amy Larson

Hidden Bubbles and Ideas Taken Too Far